

SALOMO SIMANUNGKALIT
Keistimewaan paduan suara Philippine Madrigal Singers ini sudah bisa terbaca sejak saya memasuki Balai Konser Usmar Ismail, tempat mereka mengadakan pertunjukan di Jakarta pada Senin, 9 Agustus.
Di panggung 21 kursi tersusun: 11 berhadap-hadapan dengan penonton, lima masing-masing tepat di sisi kiri dan kanannya, dengan konfigurasi berbentuk ”U” melebar terpancung. Tak ada tempat khusus di tengah buat dirigen. Tak ada piano.
Pembawa acara menyelesaikan keterangannya. Panggung kemudian diisi dengan langkah percaya diri satu per satu anggota paduan suara yang berbasis di Diliman, Filipina, itu. Setelah sembilan perempuan dan 11 laki-laki itu berdiri tepat di depan setiap kursi dengan wajah menghadap penonton, masuklah Mark Anthony A Carpio dan mencacak di tengah.
Carpio yang merupakan dirigen paduan suara ini kemudian menepi dan mengambil tempat di kursi paling kiri dan terdekat ke penonton. Kedua puluh satu orang itu duduk. Yang perempuan dengan kedua telapak tangan menyilang di pangkuan, yang laki-laki dengan telapak tangan masing-masing di atas paha kanan dan paha kiri. Mereka tak membawa buku partitur! Dalam duduk tak ada yang bersandar, tegak, tetapi luwes. Inilah keistimewaan pertama paduan suara ini: duduk bernyanyi, tidak seperti paduan suara umumnya yang kaprah berdiri bernyanyi.
Lalu, terdengar suara desis halus berbisik, terkadang bening, tak jarang cerewet, dan serentak menyentak berhenti. Pembukaan yang dramatik. Hening.
Tak terdengar sedikit pun nada dasar dibunyikan oleh mulut, tetapi mereka dalam duduk tanpa tangan dirigen mengaba langsung membawakan ”O Magnum Mysterium” karya komposer dan konduktor kor kelahiran Spanyol (1949), Javier Busto. Hampir tak pernah saya saksikan sebuah paduan suara berani bernyanyi tanpa dirigennya, entah memukul satu tuts piano, entah menggetarkan garpu tala untuk meniti nada dasar. Ini keistimewaan kedua!
Mereka membawakan lagu itu dengan tuntutan vokal kor masa kini: suara diupayakan seseragam mungkin di antara sesama partisi suara hingga mendekati bunyi musik instrumental dan vibrasi dieliminasi sampai ke titik nol. Namun, mereka yang bernyanyi seperti di sebuah kapel yang tak menyediakan instrumen apa pun—itu sebabnya disebut a capella—justru terdengar seperti sebuah orkestra simfoni kawakan. Setiap personel seperti sedang memainkan di luar badannya sebuah instrumen musik, tetapi sesungguhnya mereka sedang memainkan pita suara yang adalah instrumen bunyi yang inheren di dalam tubuhnya.
Masih dalam tataran cara bernyanyi kor masa kini, pada urutan kedua mereka melantunkan ”De Profundis”, karya anak bangsa sendiri, yaitu komposer sekaligus dirigen kor terkenal Filipina bernama John August Pamintuan.
Barulah paduan suara yang telah dua kali mendapat European Grand Prix for Choral Singing (1997 dan 2007) itu banting setir dalam lagu ketiga dan keempat dengan membawakan karya dari masa yang sangat lalu, abad ke-15 dan abad ke-16: ”Revoici venir du printemps” (Claude Le Jeune) dan ”La Bomba” (Mateo Flecha). Teknik olah vokal pun berubah memenuhi cara bernyanyi yang dituntut karya-karya paduan suara masa Renaissance itu.
Seakan mengajak penonton berpesiar di lautan nyanyian paduan suara dunia yang mahaluas itu, Philippine Madrigal Singers ini kemudian memperkenalkan dua komposisi kor kontemporer Amerika, ”We Beheld Once Again the Stars” karya komponis-konduktor Z Randall Stroope dan ”I Can Tell the World” buah tangan komponis Afro-Amerika Moses Hogan (1957-2003). Pada nomor yang disebut terakhir ini, ke-21 penyanyi Filipina itu, terutama sopran dan altonya, memperdengarkan cara bernyanyi negro spiritual dalam kor dengan vibrasi dan rintihan dalam formatnya yang paripurna.
Babak pertama ditutup dengan dua karya kontemporer pemusik Filipina, Francisco F Feliciano (”Pamugun”) dan Eudenice Palaruan (”Gapas”). Pada titik ini, tak pelak lagi harus disimpulkan betapa Filipina berhasil melahirkan komposer dengan komposisi paduan suara yang pencapaiannya sangat menantang, sebagaimana dihasilkan komposer masa kini paduan suara di negara-negara Barat dengan tradisi yang panjang dalam musik literatur.
Babak kedua yang terdiri atas 10 nomor itu melengkapi program mereka memperlihatkan betapa luas kemungkinan yang dapat ditempuh untuk merancang sebuah pertunjukan paduan suara: bisa berdasarkan repertoar tertentu, dapat dengan berbagai format kelompok (SATB, Sopran-Mezzosopran-Alto, TTBB), boleh pula dengan modus lain. Hanya dengan 21 kepala, paduan suara ini masih mempersembahkan dua lagu, masing-masing dibawakan suara sejenis. ”It Might Be You” (Alan dan Marilyn Bergman/Dave Grusin) dibawakan secara SSAA yang terdiri atas sembilan orang saja dan ”I’ll Be There (For You)” karya Martin Nievera yang dilantunkan secara TTBB dengan 12 orang.
Tamu ITB
Kedatangan mereka di Indonesia berkenaan dengan pelaksanaan Festival Paduan Suara XXII ITB 2010 baru-baru ini. ”Kami mengundang mereka sebagai tamu istimewa karena mereka paduan suara pertama di dunia yang berhasil menjuarai European Grand Prix for Choral Singing sampai dua kali,” kata Rinovia Simanjuntak, doktor Matematika yang dosen ITB dan sibuk mengurus pertunjukan mereka di Indonesia. ”Misi kami memperlihatkan paduan suara dengan kualitas standar dunia kepada masyarakat paduan suara Indonesia.”
Pada malam tambahan itu mereka membawakan versi kor lagu pop Indonesia yang masih hangat, ”Sempurna” dari Andra & The Backbone. Diawali dengan solo soprano Kitbielle Pagasu, ”Sempurna” kemudian mengalir dalam bentuk paduan beberapa suara olahan Ily Matthew Maniano. Pilihan yang tepat karena paduan suara ini telah sempurna membuat bunyi tidak sekadar bunyi, tetapi membuat bunyi apa pun yang keluar dari mulut mereka menjadi musik. Itulah musik vokal yang sesungguhnya.
Sumber : kompas

0 komentar:
Poskan Komentar